REVITALISASI NILAI-NILAI MODERASI
BERAGAMA DI INDONESIA

Oleh : H. Mokh. Khadiq, S.Ag., M.Pd.I
Kepala MI NU Mafatihul Ulum Tanjungrejo, Jekulo, Kudus,
Jawa Tengah

Negara Indonesia merupakan negara yang unik, terdiri dari bermacam, kepulauan, bermacam suku bahkan jumlahnya hampir ratusan, beragama bahasa daerah, masyarakatnya memeluk agama yang berbeda yaitu Islam, Kristen, Protesten, Hindu, Budha, Kong Huchu bahkan ada yang meyakini dengan beberapa kepercayaan dengan Tuhan Yang Maha Esa, hal tersebut merupakan sebuah tantangan sekaligus dapat menjadi faktor kekuatan sehingga harus di kelola dengan baik sehingga tidak menimbulkan letupan-letupan negatif, tapi dapat menjadi sinergi dalam membangun negara yang sangat besar yang dinamakan Indonesia.

Dalam topik artikel kesempatan ini penulis akan membahas tentang Revitalisasi nilai-nilai Moderasi di Indonesia.

Pengertian Moderasi Beragama

Moderasi beragama adalah proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku yang menyimpang yang tidak di ajarkan di dalam agama.

Adapun moderasi beragama yang di gagas oleh Kementerian agama ada 4 (empat) indikator yaitu, 1). Komitmen Kebangsaaan, 2). Anti kekerasan, 3) Akomodatif terhadap kebudayaan lokal dan 4) Akomodatif atau menyesuaikan diri. Hal-hal tersebut sangat relevan dengan    firman  Allah SWT, dalam ayat suci Al Qur’an Surat Al Hujurat ayat 13, yang artinya : “Hai Manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling taqwa di antara kamu”.

            Pengamalan moderasi beragama di Indonesia perlu di kawal bersama baik oleh Individu, lembaga, masyarakat maupun Negara. Moderasi di perlukan karena adanya sikap ekstrim dalam beragama yang tidak sesuai dengan esensi ajaran agama itu sendiri, perilaku ekstrim atas nama agama sering mengakibatkan lahirnya konflik, rasa benci dan intoleransi. Sebetulnya term moderasi beragama sudah lama dikenal dengan prinsip hidup manusia, misal mitologi Yunani kuno, prinsip moderasi sudah dikenal dan dipahatkan pada inskripsi patung Apollo di Delphi dengan  Meden Agan, yang berarti “tidak berlebihan”. Prinsip moderasi saat itu sudah dipahami sebagai nilai untuk melakukan segala sesuatu secara proporsional, tidak berlebihan, Moderasi juga dikenal dalam tradisi berbagai agama. Jika Islam ada konsep Wasathiyah, dalam tradisi Kristen ada konsep golden mean, dalam tradisi agama Buddha ada Majjhima Patipada, dalam tradisi Hindu  ada Madyhamika, dalam Konghucu juga ada konsep Zhong Yong. Begitulah dalam tradisi agama selalu ada ajaran “Jalan Tengah” ( Yakin : 2005). Dari sini dapat diketahui bahwa setiap agama mengacu pada satu titik makna yang sama yaitu memilih jalan tengah diantara dua kutub ekstrim dan tidak berlebih-lebihan merupakan sikap beragama yang paling idial.

Dengan mencermati tinjauan historis tersebut maka untuk membumikan masyarakat yang moderat dalam beragama, negara perlu hadir memfasilitasi terciptanya ruang publik untuk menciptakan interaksi umat beragama.

Hal ini mungkin dapat di lakukan  oleh para guru  dalam memberikan penjelasan kepada siswa dapat   di sisipkan pesan-pesan moral seperti yang telah dilakukan oleh para Rasul, Auliya/para wali dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia, contoh seperti yang telah dilakukan oleh Sunan Kudus Syeh Ja’far Shodiq dalam menanamkan nilai keberagaman dan keberagamaan, pada waktu itu Kudus telah di huni oleh beberapa pemeluk agama, antara lain pemeluk agama Hindu, orang Hindu mempercayai bahwa binatang Sapi/lembu merupakan binatang yang Suci sehingga harus di hormati, dengan demikian Sunan Kudus besarta para Sahabatnya memberikan wejangan dan petuah bahwa orang Muslim di larang menyembelih Sapi, karena dapat menyinggung perasaan pemeluk agama Hindu, hal inilah yang dicontohkan oleh para wali, sehingga sampai saat ini di Kudus khususnya kaitan kuliner tidak ada soto Sapi, tapi adanya Soto Kerbau,  kemudian sikap toleran yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW adalah  : Suatu ketika dalam kesehariannya tiap pagi  Rasulullah  menyuapi  orang Yahudi  miskin yang buta di pinggir  pasar wilayah Madinah, namun orang yahudi  tidak tahu kalau yang menyuapai adalah Rasulullah,  orang buta tadi tiap selesai di suapi mengejek, mengolok-olok dengan kalimat yang jelek terhadap Nabi Muhammad, namun nabi Muhammad tetap sabar dan beliau ikhlas tanpa mengenalkan dirinya bahwa saya adalah Rasul Muhammad SAW.

Kemudian suatu ketika Rasulullah Wafat lalu Abu Bakar bertanya kepada Istri Rasulullah,  kebiasaan apa yang dilakukan oleh Rasulullah ketika masih hidup, lalu Istri Rasul bercerita bahwa setiap pagi Rasulullah menyuapi orang Yahudi miskin buta di dekat pasar Madinah, kemudian Abu Bakar RA mencoba melanjutkan kebiasaan baik yang di lakukan Rasulullah, setelah Abu Bakar RA sampai di tempat orang yang buta tadi sambil membawakan makanan, lalu di suapi, ternyata orang Yahudi tadi bilang, kamu siapa kok suapannya kasar tidak seperti biasanya, halus dan sabar. Saya adalah Abu Bakar Sahabat Nabi Muhammad, lha yang biasa menyuapi  saya itu siapa, belia adalah utusan Allah Muhammad Rasulullah, sekarang beliau sudah wafat,  kemudian orang buta tadi menceritakan tiap hari Muhammad saya olok-olok, saya ejek tapi beliau tetap sabar untuk merawat saya, dengan yakin dan mantap saya hari ini mohon disaksikan untuk memeluk agama Islam dengan mengucap Asyhadu an Laa Ilaa ha Illallah, Wa Asy Hadu Anna Muhammadan Rasulullah. Kemudian orang tadi menjadi pemeluk Islam yang taat, tanpa ada unsur paksaan dari siapapun.

Bila sikap toleran seperti ini dapat kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari maka tentu  kedamaian akan dapat tercipta dengan baik, tanpa pandang apa agamamu, dari mana keturunanmu, semoga kita selalu ada manfaatnya  bagi yang lain. Aamiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Unduh Majalah Edukasi kami Sekarang

Jadilah Member sekarang dan dapatkan akses untuk mengunduh Majalah Edukasi kami secara online.

Hubungi kami untuk mendapatkan informasi login ke Member Area. Atau tekan tombol di bawah ini untuk langsung masuk ke Member Area kami.

www.majalahedukasi.co.id

Majalah
Edukasi

CONTACT US

Majalah Berita dan Pengembangan Profesi.
Contact Person: 081-393-215921
Email: majalahedukasi21@gmail.com

OUR LOCATION

Jl. Merbabu Raya no 18 RT 7 RW 8 Mojosongo Jebres Surakarta 57127

No. ISSN: 1979-1771

208705
Users Today : 895
This Month : 895
Total Users : 208705
Total views : 462620