METODE IRFA’NIAH DO’A ASMAUL
HUSNA PADA PRA KEGIATAN
BELAJAR MENGAJAR MENUJU
PEMBENTUKAN AKHLAK MULIA
PESERTA DIDIK MUSLIM

Oleh : H. Sugiyanto, S.Pd.I., M.Pd.
Guru PAI SMA N 1 Kudus,
Jawa Tengah

Seiring perkembangan zaman di masa globalisasi, terjadi perubahan sosial budaya, salah satunya akhlaq. Tidak bisa dimungkiri merosotnya akhlaq di kalangan pelajar. Pergaulan bebas yang merupakan ciri globalisasi sangat disayangkan dalam perkembangan pelajar di Indonesia khususnya masyarakat Islam. Pergaulan itu menjadikan pelajar bertindak seenaknya sendiri, tidak memperhatikan norma-norma yang berlaku. Termasuk di dalamnya norma Agama. Islam yang berakar pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi seperti yang dijelaskan dalam H.R Hakim “Kutinggalkan untukmu dua perkara (pusaka), kalian tidak akan tersesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu (Al-Qur’an) dan sunnah rasul-Nya”. Sekarang tidak dijadikan landasan dalam berperilaku sehari-hari, nafsulah yang dijadikan sebagai panutan dalam bertindak. Hal ini sangat merugikan bagi cerminan umat Islam kedepannya. Bagaimana mungkin generasi Islam di masa yang akan datang memiliki mental yang hanya berdasarkan apa yang dimaunya tanpa menaati norma Agama Islam yang sesungguhnya, menjadikannya manusia yang tidak berperilaku Qur’ani.

Dalam rangka usaha membentuk akhlak yang mulia di antaranya membiasakan mengamalkan asmaul husna dengan metode irfani’ah. Hal ini karena nama Allah adalah al-ism al-‘zham, nama teragung yang mencakup semua sifat Allah yang indah dan menjadi tanda esensi dan sebab bagi segala esensi. Nama-nama Allah SWT mengandung sifat yang berkaitan dengan nama dan keluhuran Allah SWT melalui wahyu-Nya yang disampaikan melalui rasul-Nya, dengan al-Asma’ al-Husna yang tidak dimiliki oleh makhluk-Nya. Ada sembilan puluh Sembilan nama sesuai sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan HR Ibnu Majah yaitu: “Allah itu mempunyai sembilan puluh sembilan nama. Barang siapa menghafalkannya (dengan meyakini akan kebenarannya), ia masuk surga. Sesungguhnya Allah itu Maha Ganjil (tidak genap) dan senang sekali pada sesuatu yang ganjil” (HR. Ibnu Majah).

            Agar Asmaul Husna dan sifat-sifat Allah SWT dapat benar-benar diteladani diintegrasikan ke dalam kehidupan nyata, perlu pembuktian asma Allah SWT dan sifat-sifat Allah SWT, yaitu dengan dalil naqli dan aqli. Dalil aqli yaitu yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadits, kemudian dalil aqli yaitu dengan alasan yang bersumber pada akal dan pikiran yang sehat dan penuh iman dan taqwa, bahwa meyakini betul Allah SWT benar-benar punya nama-nama yang indah, tidak satupun makhluk dapat menyamai-Nya, memiliki arti, dan makna yang agung, serta meyakini betul bahwa nama-nama Allah SWT telah tampak buktinya yang dapat dirasakan dan dilihat oleh makhluk-Nya.

Terkait dengan akhlak hakikatnya adalah suatu keadaan yang melekat pada jiwa manusia dimana lahir perbuatan-perbuatan dengan mudah, tanpa melalui proses pemikiran, pertimbangan, atau penelitian. Jika hal tersebut tersebut melahirkan perbuatan yang baik dan terpuji menurut pandangan akal dan syara’ (hukum islam), disebut akhlak yang baik, sebaliknya jika perbuatan-perbuatan yang timbul itu tidak baik disebut akhlak yang buruk. Kata akhlak merupakan bentuk jamak dari kata al-Khuluq atau al-Khulq, yang secara etimologis berarti: (1) tabiat, budi pekerti; (2) kebijaksanaan atau adat; (3) perwiraan, kesatriaan, kejantanan; (4) agama; dan (5) kemarahan (al-gadab). Untuk penerapannya dengan berulang-ulang sehingga berdampak pada perilaku yang akan timbul dengan mudah tanpa dipikir atau diteliti lebih dahulu sehingga ia benar-benar merupakan suatu kebiasaan. (Ensiklopedia Tasawuf Imam Al-Ghazali Oleh M. Abdul Mujieb,Syafi’ah,H. Ahmad Ismail M)

Penerapan metode IRFANI’AH Asmaul husna menuju pembentukan akhlaq mulia siswa muslim, yaitu dengan menekan pada intuisi dan perasaan hati seseorang setelah melalui upaya suluk (perbuatan yang biasa dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu).

Untuk pencapaian akidah Islam, maka dibutuhkan metode pencapaian yang khusus, mengingat akidah Islam tidak hanya dapat dimengerti dengan pendekatan empiris tetapi juga menggunakan pendekatan supraempiris. Karena itu metode pencapaian akidah dapat dilakukan dengan cara: 1. Doktriner yang bersumber dari wahyu Ilahi yang disampaikan melalui Rasul-Nya dan pesan Tuhan tersebut telah diabadikan dalam satu kitab Al-Qur’an yang secara operasional dijelaskan sabda Nabi-Nya; 2. Melalui hikmah (filosofis) Tuhan mengarahkan kebijaksanaan dan kecerdasan berpikir kepada manusia untuk mengenal adanya Tuhan dengan cara memperhatikan fenomena yang diambil sebagai bukti-bukti adanya Tuhan melalui perenungan (Kontemplasi) yang mendalam; 3. Melalui metode ilmiah, dengan memperhatikan fenomena alam sebagai bukti adanya Allah SWT.Misalnya melalui Cosmologi (memerhatikan fenomena alam makro), Astronomi (memerhatikan fenomena bintang-bintang) dan Psikologi (memerhatikan fenomena manusia).

Metode Irfani’ah banyak dipergunakan oleh kaum Sufi yang mencari kebenaran Tuhan atau mencari Ma’rifatullah (kenal Allah) dengan cara-cara tertentu, melalui pembiasaan penajaman intuisi berdasarkan pengalaman amal ibadahnya. Sedang, metode yang dipergunakan dalam pendakian akhlak terdapat 3 cara , yaitu : 1. Takhali, yakni mengosongkan diri dari sifat-sifat yang tercela dan maksiat lahir dan batin. Para ahli menyatakan dengan “Al-takhalli bi al-akhlak al-sayyiah”  2.Tahalli, yaitu mengisi diri dengan sifat-sifat mahmudah (terpuji) secara lahir batin. Para ahli menyatakan “Al-tahalli bil al-akhlak al-hasanah”  dan 3. Tajalli yaitu merasa akan keagungan Allah SWT. Para ahli menyatakan “Al-tajalli illa rabb al-bariyyah” (Merasa akan keagungan Allah Tuhan manusia).

Sungguh luar biasa setelah siswa menerapkan Irfani’ah asmaul husna pada pra-KBM, rata-rata siswa muslim memiliki nilai-nilai dan kaidah,  di antaranya; penerapan dalam kedisiplinan, tanggungjawab, tawadlu’ (keimanan dan ketaqwaan), bersikap dan bertutur kata yang sesuai norma agama. Secara kualitatif penerapan karakter disiplin tertuang dalam berbagai kegiatan. Salah satunya yaitu kehadiran siswa yang lebih awal dikarenakan adanya metode irfa’niah yang dimulai sepuluh menit sebelum kegiatan belajar mengajar, sehingga secara langsung siswa tidak terlambat ketika KBM dimulai. Dengan penerapan metode irfa’niah do’a Asmaul Husna dapat menumbuhkan rasa tawadhu’ kepada Allah SWT, kepada guru. Rasa tanggung jawab siswa semakin bertambah. adanya kebiasaan do’a Asmaul Husna setiap hari. Guru senantiasa memberikan nasihat kepada siswa bahwa segala amanat yang diterima seseorang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. Pembiasaan ini juga dimaksudkan menanamkan sifat-sifat Asmaul Husna, penerapan dalam tawadlu’ keimanan dan ketaqwaan. Demikian semoga bermanfaat dalam rangka menyiapkan generasi bangsa yang berilmu ilmiah, berilmu amaliah dan berakhlaqul karimah.

Unduh Majalah Edukasi kami Sekarang

Jadilah Member sekarang dan dapatkan akses untuk mengunduh Majalah Edukasi kami secara online.

Hubungi kami untuk mendapatkan informasi login ke Member Area. Atau tekan tombol di bawah ini untuk langsung masuk ke Member Area kami.

www.majalahedukasi.co.id

Majalah
Edukasi

CONTACT US

Majalah Berita dan Pengembangan Profesi.
Contact Person: 081-393-215921
Email: majalahedukasi21@gmail.com

OUR LOCATION

Jl. Merbabu Raya no 18 RT 7 RW 8 Mojosongo Jebres Surakarta 57127

No. ISSN: 1979-1771

208583
Users Today : 773
This Month : 773
Total Users : 208583
Total views : 462498