MODEL PROBLEM BASED LEARNING
MEMBANGUN KEMAMPUAN
BERPIKIR KRITIS SISWA
SEKOLAH DASAR

Oleh : Mamik Sugiyarti, S.Pd
Guru SD Negeri 03 Sumberejo Kecamatan Kerjo,
Karanganyar, Jawa Tengah

Model Problem Based Learning atau dikenal dengan istilah  model berbasis masalah sebagai salah satu model pembelajaran yang diterapkan dalam kurikulum 2013. Margetson (dalam Rusman, 2011) menyebutkan bahwa Problem Based Learning sebagai model pembelajaran yang dapat membantu siswa untuk meningkatkan perkembangan keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang terbuka, reflektif, kritis, dan belajaraktif, serta dapat memfasilitasi keberhasilan memecahkan masalah, komunikasi, kerja kelompok, dan keterampilan interpersonal dengan lebih baik dibanding model lain.

Rusman (2011) menyebutkan bahwa langkah-langkah model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah sebagai berikut: (1) Orientasi siswa kepada masalah dimana Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa agar terlibat pada pemecahan masalah yang dipilihnya; (2) Mengorganisasi siswa untuk belajar dimana guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut; (3) Membimbing penyelidikan individual dan kelompok dimana guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalahnya; (4) Mengembangkan dan menyajikan hasil karya dimana guru membantu siswa merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video dan model serta membantu mereka berbagi tugas dengan temannya; dan (5) Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah dimana guru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.

Model Problem Based Learning dipandang memiliki keunggulan dalam proses pembelajaran. Keunggulan tersebut sesuai yang dipaparkan dalam kemendikbud (2013b) sebagai berikut: (1) proses pembelajaran bermakna bagi peserta didik dimana siswa belajar memecahkan masalah melalui penerapan pengetahuan yang dimilikinya; (2) peserta didik mengintegrasikan pengetahuan dan keterampilan secara simultan dan mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan; (3) meningkatkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan inisiatif peserta didik dalam bekerja, motivasi internal untuk belajar, dan dapat mengembangkan hubungan interpersonal dalam bekerja kelompok.

Seseorang dapat dikatakan memiliki kemampuan berpikir kritis apabila memiliki karakteristik tertentu. Lau (2011: 2) menyebutkan seorang pemikir kritis jika seseorang mampu melakukan: (1) memahami hubunganlogis antara  ide-ide;                (2) merumuskan          ide secara ringkas dan tepat;    (3) mengidentifikasi, membangun, dan mengevaluasi argument; (4) mengevaluasi posisi pro dan kontra atas sebuah keputusan; (5) mengevaluasi bukti dan hipotesis; (6) mendeteksi inkonsistensi dan kesalahan umum dalam penalaran; (7) menganalisis masalah secara sistematis; (8) mengidentifikasi relevan dan pentingnya ide; (9) menilai keyakinan dan nilai-nilai yang dipegang seseorang; dan (10) mengevaluasi kemampuan berpikir seseorang.

Pada proses pembelajaran di kelas hendaknya guru perlu merancang model pembelajaran yang inovatif dan sesuai dengan karakterististik anak usia SD. Sumantri dan Syaodah (2006) menyebutkan karakteristik anak usia SD adalah sebagai berikut: 1) Senang Bermain; Karakteristik tersebut menuntut guru SD dalam melaksanaan kegiatan pembelajaran di kelas seyogyanya merancang model pembelajaran terdapat unsur permainan, 2) Senang Bergerak; Karakteristik ini menandakan bahwa siswa SD tidak mau duduk diam melainkan siswa SD dapat duduk dengan tenang paling lama 30 menit, 3) Senang Bekerja dalam Kelompok; Di sini siswa SD senang bergaul dengan kelompok sebaya karena siswa dapat belajar aspek-aspek penting dalam proses sosialisasi, dan Senang Merasakan atau Melakukan Secara Langsung; Karakteristik ini berkaitan dengan psikologi perkembangan kognitif siswa SD dimana anak dilibatkan langsung dalam permasalahan konkret.

Berdasarkan hasil kajian yang telah dipaparkan diatas, bahwa model Problem Based Learning memiliki andil yang sangat besar dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Kemampuan berpikir kritis siswa dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran melalui langkah-langkah pembelajaran model Problem Based Learning. Salah satu karakteristik model tersebut ada pada penyajian masalah sebagai fokus pembelajaran. Masalah yang digunakan bersifat kontekstual dan otentik bagi peserta didik. Hal ini sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif siswa serta karakteristik siswa SD. Melalui penyajian masalah peserta didik dituntut untuk berpikir tingkat tinggi dalam memecahkan masalah tersebut.

Dengan demikian,Penerapan model Problem Based Learning sangat penting untuk diterapkan dalam proses pembelajaran karena sesuai dengan pendidikan dalam konteks abad ke-21. Dimana pada pendidikan sekarang ini peserta didik harus lebih tanggap terhadap perubahan zaman.

Unduh Majalah Edukasi kami Sekarang

Jadilah Member sekarang dan dapatkan akses untuk mengunduh Majalah Edukasi kami secara online.

Hubungi kami untuk mendapatkan informasi login ke Member Area. Atau tekan tombol di bawah ini untuk langsung masuk ke Member Area kami.

www.majalahedukasi.co.id

Majalah
Edukasi

CONTACT US

Majalah Berita dan Pengembangan Profesi.
Contact Person: 081-393-215921
Email: majalahedukasi21@gmail.com

OUR LOCATION

Jl. Merbabu Raya no 18 RT 7 RW 8 Mojosongo Jebres Surakarta 57127

No. ISSN: 1979-1771

208703
Users Today : 893
This Month : 893
Total Users : 208703
Total views : 462618