IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN IPA
DENGAN GAMBAR PUZZLE

Oleh : Anik Munifah, S.Pd.SD
Guru SDN 2 Sumberagung, Klego, Boyolali,
Jawa Tengah

Paradigma yang lama adalah guru memberikan pengetahuan memberikan pengetahuan kepada siswa yang pasif. Guru hanya perlu menuangkan apa yang diketahuinya ke dalam botol kosong yang siap menerimanya. Banyak guru yang mengganggap paradigma lama ini sebagai satu-satunya alternatif dalam proses pembelajaran. Mereka mengajar dengan metode ceramah dan mengharapkan siswa duduk, diam, dengar, catat dan hafal serta mengadu siswa satu sama lainnya.

Tuntutan dalam dunia pendidikan sudah banyak berubah. Kita tidak bisa lagi mempertahankan paradigma lama tersebut. Teori, penelitian, dan pelaksanaan pembelajaran membuktikan bahwa para guru sudah harus mengubah paradigma pembelajarannya. Guru perlu menyusun dan melaksanakan pembelajaran berdasarkan beberapa pokok pemikiran sebagai berikut: a) Pengetahuan ditemukan, dibentuk, dan dikembangkan oleh siswa. Guru menciptakan kondisi dan situasi yang memungkinkan siswa membentuk makna dari bahan-bahan pelajaran melalui suatu proses belajar dan menyimpannya dalam ingatan yang sewaktu-waktu dapat diproses dan dikembalikan lebih lanjut. b)      Siswa membangun pengetahuan secara aktif. Belajar adalah suatu kegiatan yang dilakukan siswa, bukan suatu yang dilakukan terhadap siswa. Siswa tidak menerima pengetahuan dari guru atau kurikulum secara pasif. Teori semata menjelaskan bahwa siswa mengaktifkan struktur kognitif mereka dan membangun struktur-struktur baru. Jadi penyusun pengetahuan yang terus menerus menempatkan siswa sebagai peserta yang aktif. c) Pengajar perlu berusaha mengembangkan kompetensi dan kemampuan siswa. Kegiatan belajar mengajar harus lebih menekankan pada proses mendapatkan suatu konsep daripada hasilnya. Seorang guru yang memiliki paradigma lama mengklasifikasikan siswa dalam kategori prestasi belajar seperti dalam penilaian ranking dan hasil-hasil tes. Paradigma baru mengembangkan kompetensi dan potensi siswa berdasarkan asumsi bahwa usaha dan pendidikan bisa meningkatkan kemampuan siswa sampai setinggi yang dia bisa. d)      Pendidikan adalah interaksi pribadi diantara siswa dan interaksi antara guru dengan siswa. Kegiatan pendidikan adalah suatu proses sosial yang tidak dapat terjadi tanpa interaksi antar pribadi siswa. Belajar adalah suatu proses pribadi, tetapi juga proses sosial yang terjadi ketika masing-masing orang berhubungan dengan yang lain serta membangun pengertian dan pengetahuan bersama (Johnson, Johnson & Smith dalam Dimyati, 2002:46).

Ada beberapa yang diharapkan siswa setelah guru memasuki ruangan kelas dan guru nantinya diharapkan dapat memenuhi hal tersebut sehingga siswa tetap termotivasi untuk belajar. Menurut Ronald. W. Luce  (dalam Suryanto, 2002:207) hal yang diinginkan siswa tersebut adalah: (1) Siswa ingin kebutuhan pribadinya terpenuhi dalam belajar. Mereka ingin bakat dan kemampuannya dihargai oleh guru dalam kelas. (2) Siswa ingin gurunya benar-benar menghargai mereka sebagai “manusia”, yang peduli mereka bukan hanya guru yang selalu ingin mengevaluasi. (3) Siswa ingin ditantang dengan pelajaran bukan menjatuhkan mereka. (4) Siswa ingin guru menjaga dan selalu mendukung mereka mengikuti perkembangnya secara individu. (5) Siswa menyukai guru yang bisa menyesuaikan diri dengan mereka, humoris dan bisa mengerti humor mereka. (6) Siswa menyukai cara menerangkan yang jelas dan lengkap serta memberikan contoh-contoh yang konkrit.

Lana Becker dan Kent N. Schneider (dalam Suryanto, 2002:208) menyarankan beberapa peraturan agar tetap fokus dan termotivasi dalam belajar yaitu: a) menjelaskan kepada siswa untuk mempelajari materi yang akan diajarkan, b) menyediakan media visual untuk mendukung materi pelajaran, c) menerangkan materi pelajaran secara logis dan dapat diterapkan, d) memberikan kegiatan di dalam kelas segera setelah materi tersebut diajarkan, e) membantu siswa untuk menghubungkan pelajaran yang lalu dengan pelajaran yang sedang diajarkan, f) menghargai siswa ketika proses belajar mengajar berlangsung. Apabila siswa merasa dihargai mereka akan memberikan usaha terbaiknya, dan g) memberikan standar belajar yang tinggi.

Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berfikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup. Oleh karena itu pembelajaran IPA di SD menekankan kepada pemberian pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan sikap ilmiah.

 Salah satu alternatif pelaksanaan proses pembelajaran IPA adalah dengan permainan gambar puzzle. Sebelumnya kita telah mengetahui bahwa permainan dalam pembelajaran seperti permainan gambar puzzle adalah salah satu cara yang dapat menarik karena cara ini dapat memotivasi siswa untuk menyukai pelajaran IPA. Puzzle Picture menurut Wojowasito dan Poerwadaminta (2004:165) adalah teka-teki berupa gambar yang dapat merangsang anak untuk berfikir. Hanya saja sebelum kita mengajarkannya di depan kelas, guru harus mengetahui strategi yang tepat untuk mengajarkannya. Sebelum kita mengajar harus terlebih dahulu melakukan persiapan. Salah satunya adalah mengetahui keadaan siswa yang akan diajar dan mempersiapkan strategi yang tepat serta menarik untuk menghadapinya.

 Berikut adalah contoh implementasi pembelajaran IPA dengan menggunakan permainan gambar puzze. 1) Guru menjelaskan materi pelajaran tentang daur hidup hewan yang sesuai dengan rencana pembelajaran yang telah dipersiapkan. 2) Selanjutnya memberikan informasi tentang mempergunakan gambar puzzle yang melibatkan siswa dalam kelompok.  3) Membentuk kelompok belajar siswa dan siswa menyusun gambar puzzle yang sudah dipersiapkan guru dalam kelompok masing-masing. 4) Setelah gambar tersusun siswa mengerjakan lembaran kerja dengan berdiskusi dalam kelompok, guru memberikan penjelasan sehubungan dengan kesulitan-kesulitan yang dijumpai siswa sambil mengawasi kegiatan siswa tersebut. 5) Setelah lembaran kerja selesai dikerjakan maka siswa diminta untuk mempersentasekan hasil pekerjaan di depan kelas dan kelompok yang lain menanggapi. 6) Pada akhir kegiatan diadakan tes akhir.   

 

Unduh Majalah Edukasi kami Sekarang

Jadilah Member sekarang dan dapatkan akses untuk mengunduh Majalah Edukasi kami secara online.

Hubungi kami untuk mendapatkan informasi login ke Member Area. Atau tekan tombol di bawah ini untuk langsung masuk ke Member Area kami.

www.majalahedukasi.co.id

Majalah
Edukasi

CONTACT US

Majalah Berita dan Pengembangan Profesi.
Contact Person: 081-393-215921
Email: majalahedukasi21@gmail.com

OUR LOCATION

Jl. Merbabu Raya no 18 RT 7 RW 8 Mojosongo Jebres Surakarta 57127

No. ISSN: 1979-1771

208627
Users Today : 817
This Month : 817
Total Users : 208627
Total views : 462542