FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI KEMAMPUAN
BERPIKIR TINGKAT TINGGI (KBTT)

Oleh : Hargiyatmi, S.Pd.SD.
Guru SDN 01 Sidomukti, Jenawi, Karanganyar,
Jawa Tengah

Terdapat tiga istilah yang berkaitan dengan keterampilan berpikir, yang sebenarnya cukup berbeda; yaitu berpikir tingkat tinggi (higher order thinking), berpikir kompleks (complex thinking), dan berpikir kritis (critical thinking). Berpikir tingkat tinggi adalah operasi kognitif yang banyak dibutuhkan pada proses-proses berpikir yang terjadi dalam short-term memory. Berpikir kompleks Berpikir kritis merupakan salah satu jenis berpikir yang konvergen, yaitu menuju ke satu titik. Lawan dari berpikir kritis adalah berpikir kreatif, yaitu jenis berpikir divergen, yang bersifat menyebar dari suatu titik. adalah proses kognitif yang melibatkan banyak tahapan atau bagian-bagian (Rianawati, 2011).

Kemampuan berpikir tingkat tinggi didefinisikan sebagai penggunaan pikiran secara lebih luas untuk menemukan tantangan baru. Kemampuan berpikir tingkat tinggi ini menghendaki seseorang untuk menerapkan informasi baru atau pengetahuan sebelumnya dan memanipulasi informasi untuk menjangkau kemungkinan jawaban dalam situasi baru (Heong dkk, 2011). Berpikiir tingkat tinggi adalah berpikir pada tingkat lebih tinggi daripada sekedar menghafalkan fakta atau mengatakan sesuatu kepada seseorangpersis seperti sesuatu itu disampaikan kepada kita. Wardana (2010) mengatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi adalah proses berpikir yang melibatkan aktivitas mental dalam usaha mengeksplorasi pengalaman yang kompleks, reflektif dan kreatif yang dilakukan secara sadar untuk mencapai tujuan, yaitu memperoleh pengetahuan yang meliputi tingkat berpikir analitis, evaluatif, dan mencipta.

Menurut Ibid dalam yunistika (2016) definisi keterampilan berpikir tingkat tinggi didapatkan dari hasil investigasi terhadap tiga area yang memberikan kontribusi dalam memahami keterampilan berpikir tingkat tinggi dengan lebih baik. Adapun ketiga area tersebut antara lain yaitu: (a) pandangan yang berbeda dari filsuf dan psikolog terhadap keterampilan berpikir tingkat tinggi; (b) usaha untuk membedakan antara keterampilan berpikir tingkat rendah dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi, dan (c) sebuah gambaran yaitu mengenai hubungan antara berpikir kritis dan berpikir pemecahan masalah dengan istilah keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Menurut Piaget, keterampilan berpikir tingkat tinggi bersifat abstrak dan logis. Abstrak yang dimaksud oleh Piaget adalah “terlepas dari persepsi dan tindakan yang rata-rata dilakukan”. Berpikir yang terikat pada satu persepsi atau aksi tertentu merupakan keterampilan berpikir tingkat rendah seperti contoh pada tahap sensori motorik atau praoperasional. Berpikir dengan lebih sedikit terikat pada persepsi dan tindakan merupakan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Hal ini dapat dicontohkan seperti berpikir konkrit dan operasional formal. Dengan kata lain, keterampilan berpikir tingkat tinggi yang abstrak dan logis menuntut anak yang dalam hal ini siswa untuk mampu berpikir konkret dan operasional formal.

Berdasarkan pendapat beberapa ahli diatas, dapat ditarik suatu pemahaman bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi (KBTT) merupakan kemampuan untuk mengolah informasi secara berpikir kritis, logis, reflektif dan kreatif untuk memecahkan permasalahan dalam berbagai situasi. Dalam tulisan ini, KBTT difokuskan pada keterampilan berpikir kritis dan kreatif. Menurut Stephen, untuk mencapai keterampilan berpikir tingkat tinggi oleh siswa dalam sebuah pembelajaran dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya adalah perbedaan pegetahuan dan keterampilan guru, serta pengaruh lingkungan.

Guru memegang tugas yang penting sebagai fasilitator dan pembimbing dalam proses pembelajaran. Oleh karenanya semakin berpendidikan tinggi dan berpengalaman seorang guru akan memberikan pengaruh dalam mengajarkan keterampilan berpikir tingkat tinggi kepada siswa. Guru yang telah lebih banyak memahami isu-isu pedagogik serta menjadi ahli dalam bidang tersebut akan memberikan proses pembelajaran dengan menjadikan keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai tujuan pengajaran serta akan diajarkan dengan frekuensi yang lebih banyak dibandingkan dengan guru yang lebih kurang pengetahuan dan keterampilannya dalam mengajar.

Pengaruh yang diberikan oleh lingkungan sangat beragam. Lingkungan yang dimaksud adalah segala sesuatu yang berada di luar guru dan siswa itu sendiri. Seperti contoh aturan birokrasi tempat guru mengajar yang bertujuan terlalu membiasakan pekerjaan yang dilakukan oleh guru akan menurunkan semangat guru untuk mengajarkan keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai tujuan pengajaran kepada siswa. Sehingga, dengan kata lain guru hanya dibiarkan menggunakan model/metode lama dalam mengajar.

Selain faktor-faktor diatas, terdapat beberapa prinsip yang harus dipahami dalam penerapan KBTT. Prinsip tersebut adalah sebagai berikut: 1) Keterampilan berpikir tidak otomatis dimiliki siswa. 2) Keterampilan berpikir bukan merupakan hasil langsung dari pembelajaran suatu bidang studi. 3) Pada kenyataannya siswa jarang melakukan transfer sendiri keterampilan berpikir ini, sehingga perlu adanya latihan terbimbing. 4) Pembelajaran keterampilan berpikir memerlukan model pembelajaran yang berpusat kepada siswa (student-centered).

Prinsip-prinsip tersebut menjelaskan bahwa KBTT memerlukan proses pengolahan informasi yang mendalam dan tidak “muncul” begitu saja. Untuk memiliki kemampuan pengolahan informasi yang baik, maka diperlukan adanya latihan untuk melatihkan kompetensi berpikir tingkat tinggi siswa. Menurut Adang (1985), Suastra & Kariasa (2001), siswa hendaknya diberi kesempatan sebagai berikut: 1) Mengajukan pertanyaan yang mengundang berpikir selama proses belajar mengajar berlangsung. 2) Membaca buku-buku yang mendorong untuk melakukan studi lebih lanjut. 3) Memodifikasi atau menolak usulan yang orisinil dari temannya, guru atau dari buku pelajaran. 4) Merasa bebas dalam mengajukan tugas pengganti yang mempunyai potensi kreatif dan kritis. 5) Menerima pengakuan yang sama untuk berpikir kreatif dan kritis seperti juga untuk hasil belajar yang berupa mengingat. 6) Memberikan jawaban yang tidak sama persis dengan yang ada dalam buku, namun konsep atau prinsipnya benar. Adanya pengaruh yang positif dari berbagai faktor dan latihan yang intensif diharapkan dapat membantu siswa dalam mengembangkan KBTT.

Unduh Majalah Edukasi kami Sekarang

Jadilah Member sekarang dan dapatkan akses untuk mengunduh Majalah Edukasi kami secara online.

Hubungi kami untuk mendapatkan informasi login ke Member Area. Atau tekan tombol di bawah ini untuk langsung masuk ke Member Area kami.

www.majalahedukasi.co.id

Majalah
Edukasi

CONTACT US

Majalah Berita dan Pengembangan Profesi.
Contact Person: 081-393-215921
Email: majalahedukasi21@gmail.com

OUR LOCATION

Jl. Merbabu Raya no 18 RT 7 RW 8 Mojosongo Jebres Surakarta 57127

No. ISSN: 1979-1771

208685
Users Today : 875
This Month : 875
Total Users : 208685
Total views : 462600